#menu { background: #333; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; width: 100%; } #menu li { float: left; font: 67.5% "Lucida Sans Unicode", "Bitstream Vera Sans", "Trebuchet Unicode MS", "Lucida Grande", Verdana, Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 0; } #menu a { background: #333 url("http://i47.tinypic.com/n1bj0j.jpg") bottom right no-repeat; color: #ccc; display: block; float: left; margin: 0; padding: 8px 12px; text-decoration: none; } #menu a:hover { background: #2580a2 url("http://i49.tinypic.com/2vjbz4g.jpg") bottom center no-repeat; color: #fff; padding-bottom: 8px;

Sabtu, 14 Juli 2012

Duria Bali; Naghia Nuapa ghi boi ? ( Duria Bali; ada apa disini ? )

Banawa Tengah - Donggala - Sulawesi Tengah,
Malam sudah sedari tadi menyelimuti dusun kecil ini, ketika kami tiba di dusun kecil ini, jam telah menunjukkan angka 1, pertanda kami sudah melewati pertengahan malam, hanya suara musik dari MP3 dan obrolan-obrolan kecil diantara kami yang mengisi kesunyian malam saat memasuki Desa Povelua, salah satu desa yang masuk dalam wilayah kecamatan Banawa Tengah, pemandangan sepanjang jalan agak samar, karena memang desa ini belum terjamah oleh program pembangunan berupa listrik masuk desa, kalaupun ada cahaya lampu listrik yang terlihat menerangi satu-dua rumah itu adalah listrik yang berasal dari genset, yang tidak banyak orang bisa memilikinya, ironis memang, dengan jarak kurang dari 20 km dari ibukota kabupaten Donggala, dan juga merupakan daerah sumber air untuk PDAM yang setiap hari memberikan stock air untuk Kota Donggala dan desa-desa di Kecamatan Banawa Tengah, desa ini belum diperdulikan untuk ikut menikmati apa yang dinamakan pemerataan pembangunan.

Ada  sedikit keramaian terjadi di Duria Bali, kalau tidak mau dibilang kekagetan, karena memang sangat jarang mobil masuk saat tengah malam di sini, tampak beberapa penduduk berkumpul didepan rumah mereka, masih memakai kain sarung, karena memang mereka baru bangun dari tidur lelap mereka setelah seharian bekerja di ladang.

Duria Bali nama Dusun ini, Penamaan itu diambil dari fenomena yang terjadi di kampung itu, dimana ada sebuah pohon durian yang kadang-kadang daunnya sering berubah warna, dan juga buahnya, yang dalam bahasa Unde, nebali, artinya berubah, masuk dalam wilayah Desa Povelua tepatnya dusun IV.

Setelah berbincang-bincang dengan Pak Andi, yang adalah ketua RT di dusun itu kami langsung menuju ke Bantaya Dusun (bangunan rumah panggung berkonstruksi kayu, untuk pertemuan dusun dan membahas masalah adat dan juga untuk menerima tamu kampung) untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk diskusi besok, memang menurut Pak Andi, mereka sudah menunggu kedatangan kami sejak tadi, karena juga telah ada pemberitahuan sebelumnya dari pihak desa, hanya karena sudah tengah malam mereka berkesimpulan bahwa kami baru akan datang besok pagi, itulah sebabnya ada sedikit kekagetan ketika kami sampai pada tengah malam.

Pagi hari, Pak Kepala Dusun sudah datang membangunkan kami, keseharian di Duria Bali sudah berjalan sejak tadi, meski dengan sedikit pergerakan, lebih cenderung malas untuk bangun, saya kemudian bangun, Run, Ewin, dan Fathur masih bergelung dengan kantung tidur mereka, setelah melakukan rutinitas pagi minus mandi pagi hanya sekedar cuci muka dan sikat gigi di pancuran air yang disediakan untuk dusun, yang letaknya, disamping Bantaya Dusun, saya kembali meniti tangga untuk naik ke Bantaya Dusun dan memulai ritual minum kopi pagi, sambil berbincang-bincang dengan Kepala Dusun dan beberapa orangtua yang sudah berkumpul di Bantaya tersebut, kawan-kawan yang lain sudah mulai bergerak bangun, tidak lama kemudian mereka sudah bergabung menikmati minum kopi di pagi hari, jam menunjuk pada angka 10 kegiatan diskusi dimulai, membicarakan banyak hal, termasuk soal memikirkan solusi terhadap ironi pembangunan yang terjadi di desa Povelua, juga soal kearifan lokal yang masih terjaga baik dan tetap dijalankan hingga sekarang, menjelang sore kegiatan diskusi di hari pertama selesai, peserta diskusi kembali ke rumah, melanjutkan keseharian mereka dan mempersiapkan diri untuk kelanjutan diskusi besok, kamipun  merapihkan kembali hasil diskusi tadi dan mempersiapkan untuk diskusi besok, malam datang lagi, seorang bapak datang membawa lampu petromax untuk menerangi Bantaya Dusun.

Pagi datang lagi, ritual pagi mulai lagi, diskusi mulai lagi, melanjutkan diskusi kemarin yang belum selesai, menjelang sore diskusi selesai, kami mempersiapkan diri untuk pulang ke Palu, setelah berpamitan dengan warga kampung, kami kemudian pulang ke Palu, meninggalkan Duria Bali dengan kebersahajaannya, kesederhanaan mereka, keramahan yang tetap ada, ditengah ironi ketimpangan pembangunan yang terjadi di kampung itu, jalan-jalan kampung masih berlubang-lubang, penerangan listrik yang belum ada, air jernih yang terus mengalir memberikan kehidupan bagi banyak orang bukan hanya untuk mereka tapi untuk banyak orang di Kota Donggala dan Kecamatan Banawa Tengah, da nosinggava vai nte komiu sampesuvu ri Duria Bali...     

Catatan kecil oleh Deni Prianto, aktivis LPA Awam Green  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar