#menu { background: #333; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; width: 100%; } #menu li { float: left; font: 67.5% "Lucida Sans Unicode", "Bitstream Vera Sans", "Trebuchet Unicode MS", "Lucida Grande", Verdana, Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 0; } #menu a { background: #333 url("http://i47.tinypic.com/n1bj0j.jpg") bottom right no-repeat; color: #ccc; display: block; float: left; margin: 0; padding: 8px 12px; text-decoration: none; } #menu a:hover { background: #2580a2 url("http://i49.tinypic.com/2vjbz4g.jpg") bottom center no-repeat; color: #fff; padding-bottom: 8px;

Senin, 02 Juli 2012

Dagelan Penghematan Bensin

palu-awam green-,
Oleh : Herry Gunawan

Sebuah spanduk besar berwarna merah tertempel di dinding tembok pom bensin di Pondok Indah, Jakarta. Isinya kira-kira seperti ini: “Terima kasih kepada pengguna kendaraan dinas pemerintah, karena telah mengisi bensin tanpa subsidi.”

Entah apa maksud spanduk ini. Untuk memberitahu masyarakat (bahwa kendaraan dinas harus pakai Pertamax) atau ada maksud lain? Sulit dipahami.

Spanduk merah di pom bensin sepertinya muncul setelah adanya Peraturan Menteri ESDM No 12/2012 tentang pengendalian penggunaan bensin. Peraturan itu mengharuskan kendaraan dinas, tak terkecuali milik perusahaan plat merah, untuk menggunakan bensin tanpa subsidi.

Peraturan ini sudah berlaku di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dan pada 1 Agustus kelak akan diperluas ke seluruh daerah di Jawa-Bali. Dengan keharusan seperti ini, pemerintah seolah memberi contoh ke masyarakat untuk tidak lagi menggunakan bensin bersubsidi.

Orientalisme

Sulawesi Tengah, Awam Green,
Oleh : Indah Meitasari
 
Orientalisme, dikemukakan oleh Edward W. Said dalam bukunya Orientalism: Western Conception of The Orient yang berupaya menggugat hegemoni barat dan mendudukkan timur sebagai subjek. Said Lahir di Yerussalem, Palestina tahun 1935 dan besar di Mesir dan Amerika. Hidup di lingkungan Palestina yang nyaris berpenduduk muslim, dengan nama depan (Edward) berasal dari Inggris dan nama belakang (Said) dari Arab, serta nama tengah (Wadie) dari nama sang ayah yang berbisnis di Kairo.

Sebagai seorang Palestina, ia merasa kalah dan terusir dari negerinya, lalu lari ke Kairo. Dia tidak menganggap dirinya sebagai “ahli” poskolonial meski banyak mengungkapkan ide mengenai poskolonial. Sebutan tersebut diberikan oleh para poskolonialis yang melihat bahwa bukunya merupakan karya pemikiran tentang poskolonialisme. Sebagai orang yang pernah dijajah, masa lalunya bersifat traumatik, diaspora. Said mengatakan bahwa kehidupannya tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Ada masalah yang menyangkut ingatan kolektif dimasa lalu, dia juga merasa terasing ditanah airnya sendiri


Berkenaan dengan kehidupannya di Kairo Mesir, Said mengungkapkan bahwa ada masalah besar di barat, terutama tentang timur, bahwa penggambaran mengenai Arab dan Islam begitu rendahnya. Didalam bukunya, digambarkan suatu bidang kajian ketimuran atau orientalisme, yang bersumber dari Inggris dan Prancis. Sejak awal abad XIX hingga akhir Perang Dunia II, Prancis dan Inggris mendominasi dunia timur dan orientalisme, sedangkan sesudah Perang Dunia II dominasi tersebut diambil alih Amerika yang melakukan pendekatan pada dunia timur seperti yang ditempuh Inggris dan Prancis sebelumnya. Dari kedekatan ini, muncul berbagai teks yang disebut sebagai ‘teks-teks orientalis’.