#menu { background: #333; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; width: 100%; } #menu li { float: left; font: 67.5% "Lucida Sans Unicode", "Bitstream Vera Sans", "Trebuchet Unicode MS", "Lucida Grande", Verdana, Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 0; } #menu a { background: #333 url("http://i47.tinypic.com/n1bj0j.jpg") bottom right no-repeat; color: #ccc; display: block; float: left; margin: 0; padding: 8px 12px; text-decoration: none; } #menu a:hover { background: #2580a2 url("http://i49.tinypic.com/2vjbz4g.jpg") bottom center no-repeat; color: #fff; padding-bottom: 8px;

Jumat, 15 Juni 2012

Lingkungan Bersih, Bebas Sampah

Awam Green

Oleh : Wothson G J Sinaga, S.Pd. 
 
Sebagai limbah manusia, sampah kerap sekali menjadi sebuah permasalahan yang tidak kunjung merdeka. Hingga sekarang masih banyak masyarakat yang kurang sadar akan kebersihan lingkungan. Terbukti di lingkungan tempat kita tinggal masih banyak sampah. Sampah tersebut berserakan di tempat-tempat umum dan cukup merusak pemandangan 
dan kebersihan lingkungan.
 
Masih banyaknya masyarakat yang belum sadar lingkungan akan membuat dampak buruk bagi lingkungan. Tidak mengambil tanggung jawab atas sampah sendiri membuat mereka seenaknya membuang sampah sembarangan. Bukan hanya buruk bagi lingkungan namun 
juga tidak menjadi teladan bagi anak-anak dan orang lain. Sehingga kian lama sampah 
akan semakin menumpuk dan berakibat buruk bagi pemandangan juga drainase lingkungan.

Pemerintah juga bukannya tidak melakukan tindakan dalam mengatasi masalah sampah. Walau kelihatan hanya sebagai slogan, namun setidaknya mereka telah menyerukan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan. Meskipun demikian selalu saja masalah tersebut belum bisa terkontrol secara maksimal. Akibatnya adalah terjadi sampah berserakan bahkan di sekitar kota, adanya penumpukan dipinggiran kota dan jalan-jalan. Sehingga sewaktu hujan turun yang terjadi adalah sampah tersebut terbawa arus sungai ke dalam parit dan selokan.

Dengan adanya beragam jenis sampah yang terbawa air hujan membuatnya mengendap di dalam parit lebih banyak dan lama. Logikanya saat hujan turun kembali maka yang terjadi adalah penyumbatan saluran air dan mengakibatkan terganggunya drainase kota. Bila saluran drainase tersebut terganggu maka berakibat banjir, seperti yang terjadi pada beberapa ruas jalan dan wilayah kota Medan. Terjadinya banjir sangat mengganggu kesehatan, aktivitas rutin dan bahkan arus lalu lintas.

Mungkin secara keseluruhan, baik pemerintah dan masyarakat belum mampu untuk menanggulangi kebersihan dengan total. Namun hal tersebut dapat dilakukan step by step. Pemerintah diharapkan bukan hanya sebagai peluncur slogan-slogan kebersihan, namun juga mengimbanginya dengan operasional baik secara tindakan maupun alat pendukung. Sebab penyapu jalan setiap pagi saja tidaklah cukup jika ingin lingkungan bebas dari sampah. Lebih dari itu diperlukan totalitas tindakan penyediaan peralatan pembersih sampah, penyediaan tempat sampah organik dan non-organik, pemantauan kebersihan lingkungan secara teratur dan berkala serta mengadakan pengawasan kegiatannya. Juga tak luput proses pendaurannya pada Tempat Pembuangan Akhir sampah yang harus jelas dan benar-benar didaur ulang.

Sembari slogan berbanding lurus dengan tindakan nyata pemerintah, maka masyarakat yang melihat akan berangsur turut serta dalam program kebersihan. Juga tetap dilakukan komunikasi dua arah secara berkala antara pemerintah dengan masyarakat dalam program kebersihan lingkungan. Sehingga secara proses berjalan, kebiasaan untuk ‘bersih lingkungan’ akan menjadi gaya hidup dan berpengaruh bagi orang lainnya.

Gaya Hidup Recycling

Pemisahan sampah atas organik dan non-organik dapat memudahkan petugas dan masyarakat dalam memilah ataupun mendaur sampahnya. Sehingga sampah tidak tercampur, menumpuk dan terkontaminasi dengan reaksi kimia yang akan merugikan udara dan lapisan ozon. Kita juga tidak menginginkan aroma tak sedap dari reaksi kimia tersebut terhirup setiap hari.

Alih-alih membuang kedua sampah tersebut, kita dapat mendaur sendiri yakni sampah organik diberi untuk pakan ternak dan non-organik dikreasikan menjadi barang bernilai ekonomis. Seperti dalam kehidupan kerja, khususnya di kantor kita dihadapkan banyak pekerjaan berhubungan dengan kertas. Menggunakan kembali kertas yang telah digunakan dari side to side akan lebih bermanfaat untuk sebuah kopian atau catatan kecil. Sementara kertas juga dapat digunakan sebagai pembersih kaca atau perabotan rumah lainnya dan jika digunakan pada taraf ini dapat direcycle kembali menjadi bubur kertas untuk pembuatan kertas daur ulang.

Di lingkungan rumah dan sekolah juga dapat kita ajarkan kepada anak-anak untuk mempunyai gaya hidup go green dan memilih untuk mengoptimalkan pemakaian suatu barang yang memang dapat di daur ulang atau dikreasikan kembali. Contohnya seperti kreasi bunga dari plastik kantongan, peta buta dari bubur kertas, botol sebagai tempat bunga atau hiasan dinding, dan lain sebagainya. Dalam penggunaan perlengkapan rumah baiknya juga memilih barang kreasi limbah yang telah diolah sedemikian rupa.

Melalui tindakan kecil seperti ini nantinya akan berdampak bagi lingkungan yang semakin hijau dan bersahabat. Sebab dengan bersihnya lingkungan sekitar dan optimalisasi sampah atau limbah rumah tangga akan lebih bermanfaat bagi kelestarian alam. Dengan demikian keseimbangan alam dan kebersihannya akan tetap terjaga. Juga melalui kerjasama masyarakat, orang tua dan sekolah diharapkan akan mampu menjadi teladan bagi sebuah gaya hidup yang mencintai lingkungan bersih dan tetap memelihara kerindangan, juga mengoptimalkan pemakaian benda-benda sampai ketitik recycle secara bijak.

Sebab orang yang hidup adalah orang yang memiliki tanggungjawab atas kehidupan, dirinya dan alam. Jika terjadi ketimpangan maka dampak yang akan timbul bukan hanya bagi diri sendiri melainkan bagi generasi berikutnya. Bukankah kita ingin agar dikenal sebagai pendahulu yang mencintai lingkungan dan teladan oleh generasi berikutnya...? Oleh sebab itu mari pelihara lingkungan dan alam, maka alam juga akan menjaga keberlangsungan hidup ekosistem bumi. ***

Penulis seorang pendidik, alumni FE Unimed, kelompok Blessing Community Medan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar