#menu { background: #333; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; width: 100%; } #menu li { float: left; font: 67.5% "Lucida Sans Unicode", "Bitstream Vera Sans", "Trebuchet Unicode MS", "Lucida Grande", Verdana, Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 0; } #menu a { background: #333 url("http://i47.tinypic.com/n1bj0j.jpg") bottom right no-repeat; color: #ccc; display: block; float: left; margin: 0; padding: 8px 12px; text-decoration: none; } #menu a:hover { background: #2580a2 url("http://i49.tinypic.com/2vjbz4g.jpg") bottom center no-repeat; color: #fff; padding-bottom: 8px;

Rabu, 16 Mei 2012

Sukurman : Danau Dampelas Harus Di Kelola Secara Arif

Sederhana, rendah hati dan penuh semangat. Mungkin itu sekilas untuk menggambarkan sosok pak Sukurman, seorang nelayan di danau Dampelas desa Talaga kecamatan Dampelas – Sojol ( Damsol) kabupaten Donggala propinsi Sulawesi Tengah.
 
Di dusun 5, Tambolong, di sanalah ia bermukim bersama keluarganya disebuah rumah panggung yang bahannya sebagian besar terbuat dari kayu. Letaknya berada dipinggiran danau Dampelas. Bagi pak Sukurman, kehidupan ikan harus dijaga keberlangsungan-nya. Sebab tidak dapat dipungkiri sebagian masyarakat menggantungkan hidupnya pada danau ini. Tetapi sangat disayangkan banyak dari kita sendiri yang tak peduli dengan pendapat ini, keluh pak Sukurman.  

Menurutnya, masyarakat mulai sekarang ini hendaknya tidak boleh lagi menangkap ikan dengan menggunakan alat berupa pancing, karena ikan yang tertangkap pasti terluka dan bila dilepaskan kembali maka ikan tersebut cacat dan kemungkinan besar akan mati. Berbeda halnya kalau menangkap ikan menggunakan pukat. Dengan pukat kita dapat melakukan seleksi umur ikan yang layak untuk ditangkap baik untuk diperdagangkan maupun dikonsumsi sendiri.

Saat ini, banyak ikan yang ditangkap umurnya belum layak untuk dikonsumsi. Olehnya tidak heran bila banyak ikan akhirnya hanya dibuang karena tidak laris terjual. Bila di konsumsi mungkin masih bisa diterima. Terlihat dari mimik wajahnya, kesedihan bercampur kesal yang tersembunyi ketika menceritakan fakta yang terjadi di desanya.Banyak sudah bantuan pemerintah, dalam hal ini dinas perikanan untuk membantu mengembangkan usaha kecil masyarakat khususnya nelayan. Hanya saja belum tepat sasaran. Sehingga terkesan program tersebut hanya menguap tak jelas bagaimana keberlanjutan-nya.
“ Kedepan saya berharap masyarakat, pemerintah desa dan pemerintah daerah kabupaten secara bersama – sama memikirkan pengelolaan danau Dampelas ini secara arif, berkelanjutan dan dapat memberi manfaat secara lebih baik ”  kata pak Sukurman seraya mempersilahkan kami untuk mencicipi secangkir kopi yang disuguhkan anaknya.
 
Oleh sebagian besar orang, danau Dampelas yang luasnya kurang lebih 665 Ha ini, lebih dikenal dengan sebutan danau Talaga. Mungkin karena letak danau ini berada di desa Talaga. Namun penduduk setempat menjelaskan bahwa nama danau ini “Dampelas“ sebab yang bermukim di sekitar danau ini secara turun temurun dihuni oleh masyarakat suku Dampelas.  Dahulu, desa ini dikenal dengan sebutan kampung naili yang dalam bahasa Dampelas artinya mengalir. Tutur, pak Ibrahim, kepala desa Talaga, dalam mengenang kehidupan masa kecilnya di desa ini.

( lpa awam green, Syahrun Latjupa )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar