#menu { background: #333; float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; width: 100%; } #menu li { float: left; font: 67.5% "Lucida Sans Unicode", "Bitstream Vera Sans", "Trebuchet Unicode MS", "Lucida Grande", Verdana, Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 0; } #menu a { background: #333 url("http://i47.tinypic.com/n1bj0j.jpg") bottom right no-repeat; color: #ccc; display: block; float: left; margin: 0; padding: 8px 12px; text-decoration: none; } #menu a:hover { background: #2580a2 url("http://i49.tinypic.com/2vjbz4g.jpg") bottom center no-repeat; color: #fff; padding-bottom: 8px;

Jumat, 13 Juli 2012

Saralonja; Tesa dako ri Ngata Tompu (Saralonja; Sepenggal kisah dari Ngata Tompu)

Awam Green, Palu, Sulawesi Tengah
Oleh : Deni Prianto**
 
Tina I Kosi ( Foto : Deni Prianto 2012 )
Hari masih pagi, matahari baru menampakkan dirinya sebagian, tapi kehidupan orang Tompu sudah menggeliat sejak tadi subuh, seorang nenek berusia sekitaran 80-an tahun nampak sudah mempersiapkan seikat padi untuk ditumbuk, Tina i Kosi demikianlah panggilan beliau sehari-hari, beliau mulai membersihkan lesung dan alu dan mulailah kegiatan nombayu atau menumbuk padi dilakukan, seikat padi tadi mulai dimasukkan dilesung dan kemudian mulai ditumbuk secara berirama dan teratur, menggambarkan keteraturan kehidupan yang ada di Ngata Tompu, kadang-kadang ayunan pombayu (alu) itu terlihat cepat, kadang lambat sesuai dengan kebutuhan tenaga untuk merubah padi itu menjadi beras, setelah beberapa saat, nenek itu menghentikan kegiatan nombayunya, dan mengumpulkan padi yang sudah ditumbuk tadi ke dalam tapis, dan kemudian mulai menapis, untuk mengeluarkan kulit-kulit padi yang sudah terpisah dengan beras, kemudian mulai lagi dengan menumbuk padi tadi, nama padi itu adalah Saralonja.

Sara Lonja adalah nama salah satu jenis padi lokal dari Ngata Tompu, yang kalau penamaan lokalnya untuk jenis padi di sana adalah Pae, yang dalam bahasa Indonesia artinya padi, dari sekitar 50 jenis Pae yang ada di Ngata Tompu hingga akhir tahun 70-an sekarang tinggal tersisa sekitar 10 jenis yang salah satunya adalah Saralonja, hal itu sebagai akibat langsung daripada peristiwa diera tahun 1970-an dimana adanya kebijakan negara khususnya sektor Kehutanan yang menetapkan lingkup wilayah Ngata Tompu sebagai daerah yang masuk kawasan Hutan Lindung, dimana dengan adanya kebijakan tersebut maka masyarakat Ngata Tompu dipaksa untuk keluar dari kampungnya dan dipindahkan melalui program Resetlement ke daerah lembah Palolo, dan Parigi, serta satu daerah lagi di Kecamatan Biromaru (sekarang wilayah itu masuk Kecamatan Gumbasa), Padi atau Pae dalam kehidupan orang Tompu mempunyai peran atau tempat yang sakral dan mengandung nilai-nilai kehidupan itu sendiri, orang Tompu meyakini bahwa pae itu adalah saudara dari manusia, sehingga memperlakukannya pun mempunyai prosesi-prosesi tersendiri, mulai dari pembukaan ladang atau Talua sampai pada proses penanamannya hingga proses panennya.

Ladang atau Talua adalah sebuah media tempat orang Tompu mengekspresikan diri, selain sebagai tempat untuk menanam padi dan jenis tanaman lainnya untuk dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, juga adalah media tempat pelaksanaan dan prosesi adat yang menyangkut kehidupan orang Tompu, salah satu hal yang menarik diantara banyak hal yang menarik atau mempunyai kedalaman arti dalam proses kehidupan berladang orang Tompu adalah Notuja Pae, menanam padi di ladang tidak boleh dilakukan sebanyak dua kali dalam satu kali pembukaan ladang, dimana kalau hal ini dilakukan itu adalah pelanggaran besar, dan biasanya hal itu akan diikuti dengan proses penghukuman oleh alam, dan sampai sekarang hal itu dipegang teguh oleh orang Tompu, No Talua atau berladang selalu diawali dengan prosesi pembukaan ladang mulai dari menandai lokasi calon ladang (Notandai), kemudian proses menebang pohon-pohon besar dikawasan yang direncanakan untuk menjadi lokasi ladang itu, sebelum menebang pohon-pohon itu ada prosesi adat yang dilakukan dimana pohon yang akan ditebang itu dikelililingi tiga kali sambil mengetuk-ngetuk pohon itu dengan kapak, yang mana itu adalah bentuk permintaan izin untuk menebang pohon itu, kemudian setelah ditebang, lokasi itu dibiarkan selama beberapa waktu, lalu diadakan pembakaran dengan  tujuan untuk membersihkan rumput atau semak-semak yang ada dilokasi ladang itu, baru kemudian meminggirkan atau menata sisa-sisa batang pohon yang telah ditebang tadi, ada yang digunakan sebagai kayu api untuk dirumah,dan hal-hal yang lain, kemudian setelah ladang siap untuk ditanami diadakanlah penanaman padi sulung, jadi sebelum ada tanaman lainnya di talua tersebut harus ditananam dahulu sejumlah benih padi, sebagai tanda tanaman sulung kemudian barulah ditanami padi yang lebih banyak diladang tersebut dengan cara ditugal memakai kayu panjang yang telah disiapkan, semua pekerjaan berladang ini dilakukan secara beramai-ramai, atau bergotong royong, namanya No Siala Pale, dan juga waktu-waktu membuka ladang ini, kemudian membersihkan dan seterusnya ini, tidak dilakukan secara sembarangan, tapi ada waktu-waktu tertentu dan itu ditentukan oleh Totua-Totua Ngata  atau orang tua – orang tua kampung, berdasarkan susunan bintang-bintang yang ada, ini juga adalah bentuk kearifan lokal yang masih dipegang teguh dan dilaksanakan di Ngata Tompu, dan memang sangat berhubungan dengan keberhasilan dalam berladang.

Setelah proses penanaman padi selesai, sambil menunggu saat panen padi, biasanya dipinggiran-pinggiran ladang tadi ditanami dengan ubi kayu, atau tanaman selingan lainnya, seperti jagung, sehingga waktu yang ada selalu termanfaatkan, sambil diselingi membersihkan rumput-rumput atau semak yang tumbuh diantara tanaman padi, satu lagi hal menarik adalah ketika padi itu mulai berbuah ada ritual yang berlaku disekitar ladang dan bahkan sampai di dalam perkampungan, berupa penggantian penyebutan untuk aktivitas yang dilakukan sehari-hari juga benda yang diperlukan atau dikonsumsi sehari-hari, misalnya minum air diganti namanya, atau mengambil air diganti namanya, dan itu berlaku seragam di Ngata Tompu, sampai masa panen telah selesai, pemanenan padi disana masih menggunakan ani-ani, dan namanya adalah Nokato, padi yang telah dipanen kemudian dikumpulkan dengan cara diikat seukuran dua genggaman tangan, kemudian disimpan dalam lumbung padi, ada juga yang disimpan dibumbungan dapur, biasanya padi yang ini yang akan segera ditumbuk untuk dikonsumsi setiap hari, dan salah satu jenis padi itu adalah Saralonja, sayup-sayup masih terdengar suara alu bertumbukan dengan lesung, suara ayunan pombayu Tina i Kosi, seiring dengan geliat kehidupan di Ngata Tompu.


 **Anggota LPA. Awam Green

Tidak ada komentar:

Posting Komentar